Rabu, 19 September 2012

Budaya


Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.[1] Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.[1] Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.[1]
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.[2]
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" d Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina. Citra budaya yang brsifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

Budaya atau kebudayaan yang dihasilkan manusia dapat berbentuk :
o       Wujud ideal, seperti ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan yang bersifat ideal dan abstrak.
o       Wujud kegiatan, seperti aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat
o        Wujud material, seperti benda-benda atau alat-alat yang diciptakan oleh manusia untuk kemudahan dan kelangsungan hidupnya.

Siksa Meninggalkan Sholat 5 waktu


SIKSA MENINGGALKAN SHOLAT LIMA WAKTU 



6 MACAM SIKSAAN DI DUNIA

3 MACAM SIKSAAN DI DALAM KUBUR
1.     Allah mengurangi keberkatan umur
2.     Allah tidak mempermudah rezekinya
3.     Allah menghilangkan tanda / cahaya sholeh dari raut wajahnya
4.     Ia tidak mempunyai tempat di dalam Islam
5.     Amal kebaikan yang dilakukannya tidak mendapatkan pahala
6.     Allah tidak mengabulkan do’anya

1. Allah akan menyempitkan kuburnya
2. Allah akan menggelapkan kuburnya
3. Allah akan menyiksanya sampai hari kiamat
3 MACAM SIKSAAN KETIKA MENGHADAPI MATI

3 MACAM SIKSAAN KETIKA BERTEMU ALLAH
1.     Orang itu akan menghadapi mati dalam keadaan hina
2.     Mati dalam keadaan yang sangat lapar
3.     Mati dalam keadaan yang amat haus, walaupun diberi air minum yang banyak

1.     Di hari kiamat ia akan dibelenggu oleh Malaikat
2.     Allah tidak akan memandangnya dengan pandangan kasih sayang
3.     Allah tidak akan mengampunkan dosa – dosanya dan di azab dengan azab yang pedih didalam neraka
DOSA DAN AKIBAT MENINGGALKAN SHOLAT LIMA WAKTU

1. Subuh                        
2. Zuhur
3. Ashar
4. Magrib
5. Isya’
: Sekali meninggalkannya dimasukkan kedalam neraka selama 30 tahun sama dengan 60.000 tahun di dunia.
: Sekali meninggalkannya dosanya sama seperti membunuh 1.000 umat islam
: Sekali meninggalkannya dosanya sama seperti menutup Baitullah / Ka’bah
: Sekali meninggalkannya dosanya seperti berzina dengan ibu sendiri
: Sekali meninggalkannya dosanya tidak diredhoi Allah SWT tinggal dibumi atau di bawah langit serta makan dan minum dari nikmat – Nya.

Resensi Novel ‘Atheis’ Karya Achdiat K. Miharja

I. SINOPSIS

Dalam novel ‘Atheis’ karya Achdiat K. Miharja menceritakan tentang perjalanan hidup seseorang bernama Hasan yang lahir dari sebuah keluarga yang sangat taat kepada agamanya yaitu Islam. Hasan adalah anak tunggal dari pensiunan manteri guru yang tinggal di lereng gunung Telaga Bodas ditengah-tengah pegunungan priangan yang indah bernama kampung panyeredan di wilayah Bandung yang pada waktu itu masih dalam keadaan dijajah pemerintahan Jepang. Sejak kecil Hasan dididik dengan cara Islam, Ayahnya Raden Wiradikarta menginginkan Hasan menjadi anak yang baik, sopan, berilmu dan berakhlak sholeh. Oleh karena itu, walaupun Hasan masih kecil tapi, dia sudah menunjukkan pribadi Islam yang taat. Hasan selalu patuh kepada semua peraturan kedua orang tuanya.
Kedua orang tua Hasan semakin bangga melihat Hasan tumbuh dewasa dengan kadar keimanan yang cukup tinggi, kebahagiaan dan kebanggaannya bertambah ketika Hasan berniat untuk pergi memperdalam ilmu tarekat pada kiayi Mahmud seperti yang dilakukan oleh kedua orang tuanya dulu. Keimanannya semakin meningkat setelah Hasan menimba ilmu disana dan mengamalkannya dalam setiap langkah hidupnya. Setelah Hasan merasa cukup dengan ajaran-ajaran dari kiayi Mahmud dan orang tuanya, maka setelah ia sekolah, Hasan pun bekerja disebuah kantor milik Jepang. Kini Hasan harus terpisah dengan kedua orang tuanya, karena pekerjaannya berada didaerah yang jauh dari desa tempat kelahirannya dulu. Walaupun Hasan jauh dari kedua orang tuanya dan bekerja pada orang-orang Jepang tetapi Hasan masih memegang teguh agamanya dan masih menjadi pribadi dengan keimanan yang kuat.
Suatu ketika, Hasan sedang bekerja pada loketnya. Hasan bertemu sahabat lamanya bernama Rusli, dia teman kecil Hasan yang telah meraih kesuksesan dan memiliki pengalaman hidup yang luas. Dalam waktu yang bersamaan, Rusli mengenalkan seorang perempuan bernama Kartini yang bersamanya pada waktu itu kepada Hasan. Ketiganya saling bercakap-cakap sampai pada titik kesimpulan bahwa Hasan disuruh berkunjung kerumah Rusli yang tidak jauh dari perumahan yang ditempati Hasan. Hasan pun sering datang kerumah Rusli, Kartini pun selalu ada disana. Hasan sangat senang bertemu dengan sahabat lamanya itu, ditambah lagi dengan adanya Kartini yang menurut Hasan adalah sesosok perempuan yang sangat mirip dengan Rukmini, kekasihnya dulu pada waktu dikampung. Baginya Kartini adalah jelmaan yang dikirim Tuhan untuk menggantikan Rukmini yang telah pergi dari kehidupannya.
Meskipun Hasan bahagia dengan sahabat lamanya itu, tapi semua kebahagiaan itu belum cukup karena ternyata kedua temannya itu mempunyai keyakinan yang berbeda dengan dirinya, mereka beranggapan bahwa sebenarnya Tuhan itu tidak ada. Hal itulah yang membuat Hasan berniat untuk mengIslamkan kedua temannya itu, tapi niat baiknya itu semakin terkikis oleh kebaikan Rusli dan Kartini, Hasan sedikit melalaikan niat awalnya itu karena sering berdiskusi tentang berbagai hal dengan Rusli ataupun Kartini. Walaupun niat Hasan mulai luntur tapi dia masih taat pada ajaran Agamanya. Selain berkunjung kerumah Rusli, Hasan pun sering diajak pergi ke Restoran oleh Rusli dan Kartini. Mereka selalu pergi bertiga hingga perasaan lain pun datang kepada Hasan untuk Kartini, dia pun menerima perasaan Hasan. Sejak saat itu mereka semakin dekat dan akrab, tapi sering pula Hasan berfikir, mengeluh, hatinya bimbang, terombang-ambing antara dua pilihan. Tetap berada di jalan yang telah diajarkan oleh orang tuanya sejak kecil yaitu jalan Agama atau memasuki dunia yang baru saja ia kenal dari sahabatnya Rusli dan Kartini namun telah menariknya dengan kuat menjadi seorang Atheis.
Kehadiran Kartini mengubah seluruh hidup Hasan, berusaha menyesuaikan diri dengan pergaulan Kartini dan paham yang diyakininya,Hasan mengalami berbagai konflik yang menyebabkan pertentangan hebat didalam batinnya. Masalah meruncing ketika muncul Anwar, seorang seniman dan sekaligus teman Rusli, Anwar dikenalkan Rusli kepada Hasan dan Kartini ketika mereka berada disebuah Restoran. Sejak saat itu Hasan telah mengetahui bahwa Anwar menaruh hati kepada Kartini. Mengetahui keadaan seperti itu, akhirnya Hasan menikahi Kartini yang sudah menjadi cita-citanya dari sejak ia mengenalnya. Awalnya Hasan ingin menuntun istrinya itu menjadi seorang muslimah dengan satu keyakinan dalam rumah tangga yang baru saja ia masuki. Tapi semua harapan itu hilang ketika Kartini sering meninggalkan rumah setelah beberapa bulan pernikahan, hal itu terjadi karena satu permasalahan antara Kartini dengan orang tua Hasan yang memang dari semula tidak pernah menyetujui pernikahan mereka karena Kartini seorang Atheis.
Rumah tangga yang semula diselimuti kabahagiaan harus berakhir dengan perceraian, Hasan pun menceraikan Kartini karena dia beranggapan bahwa Kartini telah berselingkuh dengan Anwar, dia selalu pergi dengan Anwar ketika meninggalkan rumah. Begitulah pemikiran Hasan yang pada saat itu keadaannya yang sedang sakit TBC, dia sangat sedih dan menyesal karena dia sudah melukai hati kedua orang tuannya dengan menjadi Atheis dan menikahi Kartini yang akhirnya Ayah Hasan harus meninggal dunia dengan membawa penyesalan yang mendalam karena perbuatan anaknya, Hasan. Hasan sangat menyesal dengan apa yang telah dipilih dalam hidupnya, dengan penyakit TBC yang dideritanya ditambah dengan penyesalan yang sangat dalam maka Hasan pun semakin lemah dan harapannya telah kosong. Hidupnya berakhir apda peluru yang ditujukkan kepadanya ketika dia berjalan sempoyongan di jalan oleh tentara Jepang yang pada waktu itu sedang mambabi buta di jalanan sekitar perumahannya. Hasan pun tersungkur bermandikan darah dengan melepas kata “ALLAHU AKBAR “ tak bergerak lagi.